September 24, 2021

Bejagadget

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta Beja Gadget, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta yang diperbarui.

4 Takeaways dari Codons International tentang Adopsi Pembayaran Seluler di Indonesia

Indonesia merupakan lahan subur bagi disrupsi digital dalam layanan keuangan. Seiring dengan semakin matangnya sektor e-commerce dan fintech di Tanah Air, transaksi nontunai melalui situs dompet seluler menjadi lebih umum, terutama di kota-kota besar.

Di negara di mana uang masih menjadi raja, transaksi uang elektronik akan berdampak Rp 25,4 triliun (Indonesia 1,7 miliar) Pada Juli 2021, menurut data Bank Indonesia, meningkat 57,7% per tahun. Transaksi non tunai ini dilakukan dengan berbagai metode termasuk situs dompet seluler, kartu debit dan kredit, serta perbankan digital.

Situs e-wallet adalah salah satu bentuk layanan fintech paling populer di Indonesia. Per Februari 2020, regulator Indonesia telah menyetujui Lisensi 41 operator e-wallet.

Untuk lebih memahami persaingan e-wallet di Indonesia, kami telah memisahkan data yang paling relevan dari laporan terbaru Godense International Indonesia tentang penggunaan dan perilaku pengguna dari lima situs pembayaran digital terbesar di negara ini – Ovo, Kobe, Showpee, Dana dan Lingza.

Studi ini memperoleh hasil dari survei online terhadap 1.000 responden yang berlokasi di enam kota: Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Makassar, Madden dan Palembang.

Berikut adalah empat poin penting dari laporan tersebut.

#1: Ovo adalah aplikasi yang paling banyak digunakan dan terpopuler

Ovo adalah prosesor e-wallet yang paling banyak digunakan oleh orang Indo-Indonesia dengan pangsa pasar 31%. Diikuti oleh GoPay (25%), ShopeePay (20%), Dana (19%), dan LinkAja (4%).

Ovo memimpin persaingan berdasarkan kesadaran merek, dengan 96% responden mengatakan bahwa mereka tahu merek tersebut. Kobe mendekati 95%, Dana dengan 93%. Sementara itu, 81% responden mengetahui tentang ShopePay, dan 75% mengetahui keberadaan LinkAja.

#2: Pengguna aktif menggunakan lebih dari satu situs e-wallet

71% dari 1.000 responden mengaku sebagai pengguna aktif OVO, sedangkan 64% teridentifikasi sebagai pengguna aktif GoPay. ShowPay memiliki rasio pengguna aktif sebesar 57%, diikuti oleh Dana (46%) dan Lingza (22%).

Pelanggan aktif telah menggunakan dua hingga tiga prosesor e-wallet yang berbeda dalam sebulan terakhir. 40% pengguna aktif menggunakan situs e-wallet setidaknya empat kali seminggu.

#3: Pelanggan mau pesan Ovo, Shopebe mau belanja online

Saat memesan makanan, penggunaan Ovo lebih disukai orang Indonesia. Delapan puluh satu persen responden mengatakan mereka biasanya memesan makanan dengan Ovo, sedangkan Kobe mengikuti 75% dan Shobebe 68%.

Namun, ShopePay unggul dengan pembeli online karena 84% responden mengatakan itu adalah prosesor utama yang mereka gunakan saat berbelanja online.

Selama tiga bulan terakhir, OVO dan ShowPay telah mencatat tingkat preferensi 77% untuk transaksi offline di mini market atau convenience store. LinkAja mendekati 75%, Dana (70%), dan GoPay (68%).

# 4: Dana menempati urutan pertama di luar wilayah metro

Meskipun Owo saat ini memimpin kompetisi di seluruh negeri, laporan itu mengatakan tiga situs teratas, Owo, Kobe dan Showpee, memiliki pangsa pasar yang sama di Jabodetabek.

Namun, kota-kota lain seperti Bandung, Surabaya, dan Makasar, Owo dan Dana adalah e-wallet yang paling banyak digunakan, yang berkinerja lebih baik daripada pemain lain. Di McCarthy, misalnya, 50% responden menggunakan Dana dan 30% menggunakan Ovo. Hanya 15% responden yang menggunakan GoPay, 3% menggunakan ShopeePay, dan hanya 1% responden yang menggunakan LinkAja.

Pelanggan di seluruh negeri menggunakan situs e-wallet untuk berbagai alasan seperti menaikkan pulsa, memesan makanan, belanja online, pembayaran tagihan, dan biaya transportasi.

READ  Indonesia mengumumkan resolusi undangan untuk konsesi Republik | Kondisi