April 16, 2024

Bejagadget

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta Beja Gadget, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta yang diperbarui.

Rencana Aksi Kolaboratif One Health Indonesia

Rencana Aksi Kolaboratif One Health Indonesia

Lebih dari 60% penyakit menular (PIE) yang menyerang manusia berasal dari hewan, dan sebagian besar berasal dari satwa liar. Penyakit seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Avian Influenza, Nipah Virus, dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) terus meningkat, tidak hanya berdampak pada kesehatan namun juga berbagai sektor. Untuk mengatasi tantangan kesehatan yang kompleks ini memerlukan pendekatan kesehatan holistik yang mempertimbangkan interaksi antara faktor manusia, hewan, dan lingkungan.

Memimpin inisiatif kesehatan, organisasi kuadripartit – WHO, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH), dan Program Lingkungan PBB (UNEP) – bersama-sama mengembangkan Rencana Aksi Kesehatan Bersama. (OH JPA). Program ini memberikan landasan tindakan yang kuat dengan berfokus pada peningkatan kolaborasi, komunikasi, peningkatan kapasitas dan koordinasi lintas sektor untuk memperkuat layanan kesehatan.

Untuk menyesuaikan program ini dengan kondisi lokal, WHO dan FAO bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan OH JPA khusus Indonesia. Pada bulan Mei hingga Agustus 2023, pemangku kepentingan dari Kementerian Kesehatan, Pertanian, Lingkungan Hidup, Dalam Negeri, Perencanaan Pembangunan; Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan; Asosiasi profesional berkumpul untuk menyesuaikan rencana tersebut.

Program Aksi Bersama One Health Indonesia mempromosikan pelatihan dan peningkatan kapasitas yang melibatkan pejabat dari sektor manusia, hewan, dan satwa liar. Kredit: WHO/Endang Wulandari

WHO dan FAO memfasilitasi diskusi ini dan memperkenalkan Quadripartite OH JPA serta memberikan panduan yang disesuaikan dengan konteks Indonesia. Fase awalnya difokuskan pada tiga bidang: memperkuat sistem kesehatan dengan meningkatkan kesehatan, mengurangi risiko munculnya dan kemunculan kembali epidemi dan epidemi zoonosis, serta pengendalian dan pemberantasan penyakit zoonosis endemik, penyakit tropis terabaikan, dan penyakit yang ditularkan melalui vektor.

READ  Gempa berkekuatan 6,1 skala Richter mengguncang Indonesia bagian timur

Para pemangku kepentingan mengusulkan untuk memasukkan kegiatan-kegiatan seperti penilaian kebutuhan sumber daya manusia, pengembangan materi advokasi, pemutakhiran pedoman dan pembentukan komite untuk PIB zoonosis di bawah Indonesia OH JPA. Upaya juga difokuskan pada penerapan OH JPA, peningkatan standar keanekaragaman hayati, dan peningkatan pemantauan terpadu. Program pelatihan, lokakarya komunikasi risiko, dan penilaian tingkat keparahan epidemi dapat berkontribusi dalam mengurangi risiko. Program ini akan mengatasi penyakit zoonosis endemik melalui pembaruan pedoman, upaya pengendalian terkoordinasi, pengolahan air limbah dan dokumentasi praktik terbaik. Secara keseluruhan, OH JPA memberikan strategi dinamis untuk memperkuat ketahanan kesehatan Indonesia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Dr. Imran Bambudi menegaskan, “Pencegahan dan pengendalian zoonosis yang efektif dan optimal memerlukan upaya bersama dengan menggunakan pendekatan kesehatan yang melibatkan manusia, hewan, satwa liar, dan lingkungan. Departemen. Penerapan Rencana Aktivasi Bersama Kuadripartit One Health dalam konteks Indonesia akan secara sistematis menyelaraskan rencana kerja dan sumber daya bersama.

Anggota kelompok duduk di depan ruang pertemuan.

WHO dan FAO mengkomunikasikan konsep Joint Health Action Plan (OH JPA) dalam pertemuan multidisiplin pada 10-11 Agustus 2023. Kredit: WHO/Endang Wulandari

Kementerian Kesehatan ingin memperluas OH JPA dengan memasukkan keamanan pangan, resistensi antimikroba (AMR) dan pertimbangan lingkungan dalam skema tersebut. OH JPA final akan diselesaikan pada pertengahan tahun 2024.

Setelah selesai, rencana aksi ini akan menjadi masukan berharga untuk diintegrasikan ke dalam perencanaan strategis jangka menengah dan panjang Pemerintah Indonesia. Hal ini merupakan langkah penting menuju penguatan ketahanan kesehatan terhadap ancaman yang muncul dan pembangunan infrastruktur kesehatan yang direhabilitasi sejalan dengan agenda transformasi kesehatan.

WHO telah memberikan masukan teknis dan dukungan kepada Indonesia untuk mendorong inisiatif kesehatan di luar negeri. Kepemimpinan Indonesia G20 mengadopsi Rencana Aksi Bersama Kesehatan sebagai rencana tindakan lebih lanjut., memungkinkan negara-negara dan pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dan mengarusutamakan pendekatan kesehatan di semua tingkatan. Deklarasi Ketua Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada Agustus 2023 juga mendukung pengembangan inisiatif kesehatan. Program Aksi Bersama Satu Kesehatan ASEANMembina kerja sama di bidang kesehatan manusia, hewan, tumbuhan dan lingkungan di antara Negara-negara Anggota ASEAN.

READ  Unit Axiata menjual 5% saham XL Axiata yang terdaftar di Indonesia seharga RM423.5m

Kegiatan ini didukung oleh Pemerintah Amerika melalui USAID dan Pemerintah Australia.

Ditulis oleh Endang Wulandari, Pejabat Ahli Nasional (Epidemiolog) WHO Indonesia.