Juli 21, 2024

Bejagadget

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta Beja Gadget, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta yang diperbarui.

WWF: Bank Dunia akan memperkuat aksi iklim di Indonesia

WWF: Bank Dunia akan memperkuat aksi iklim di Indonesia

ASIATODAY.ID, Jakarta – World Wildlife Fund (WWF), sebuah organisasi non-pemerintah yang bekerja di bidang konservasi dan pembangunan berkelanjutan, telah merilis laporan Sustainability Bank Assessment (SUSBA).

Laporan tersebut menyajikan penilaian komprehensif terhadap integrasi aspek lingkungan, sosial dan tata kelola (LST/ESG) terhadap 39 bank di negara-negara ASEAN dan 10 bank besar di Jepang dan Korea Selatan.

Khusus untuk Indonesia, laporan SUSBA tahun 2023 mencakup 11 bank swasta dan badan usaha milik negara, yang merupakan jumlah responden terbanyak di seluruh kawasan ASEAN dan Asia Timur.

Laporan terbaru SUSBA menyebutkan adanya penambahan tiga bank yaitu Bank BPTN, BSI dan Bank Danamon dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari 11 bank, hanya empat yang berkomitmen mencapai net zero. Kemudian, pengembangan produk keuangan yang mendukung konversi net zero masih terbatas, terutama pada skala kecil dan menengah. Selain itu, risiko dampak alam dan keanekaragaman hayati terhadap kinerja keuangan belum menjadi hal yang mendesak bagi sebagian besar bank di Indonesia.

Chief Conservation Officer WWF-Indonesia Dewi Risky menjelaskan, Indonesia secara geografis rentan terhadap perubahan iklim. Berdasarkan Skor Data Kerentanan Perubahan Iklim (ND-GAIN 2021) masing-masing negara, yang mengukur kerentanan dan kesiapsiagaan terhadap bahaya iklim fisik, Indonesia perlu memperkuat aksi iklim.

Hal ini mencakup sektor swasta, yang rentan terhadap risiko transisi seperti dinamika peraturan global, perkembangan teknologi yang pesat, dan perubahan kondisi pasar.

“Kinerja bank sebagai perantara keuangan tidak kebal terhadap paparan risiko perubahan iklim. Misalnya, perubahan pasar dan kebijakan terkait bahan bakar fosil merupakan risiko yang perlu diperhitungkan oleh bank,” kata Dewey seperti dikutip 22 Juni. 2024.

“Oleh karena itu, bank perlu meningkatkan kapasitasnya untuk mengidentifikasi dan mengelola dua risiko utama yaitu perubahan iklim dan degradasi lingkungan. “Pada saat yang sama, perbankan juga berperan penting dalam meningkatkan ketahanan sektor lain terhadap perubahan iklim,” tambah Dewey.

READ  Pembangkit listrik tenaga surya adalah tulang punggung energi bersih Indonesia: Menteri

Tujuan net zero tidak dapat tercapai tanpa adanya upaya nyata dalam menjaga kondisi lingkungan. Berdasarkan SUSBA 2023, dukungan perbankan terhadap pengurangan dampak negatif terhadap alam dan masyarakat masih rendah (5%).

Salah satu temuan positif SUSBA menunjukkan bahwa manajemen tertinggi bank (direksi dan komisaris) telah memiliki fungsi dan tanggung jawab untuk mengelola risiko LST dan perubahan iklim. Namun kemampuan bank dalam mengukur tingkat risiko masih terbatas dan perlu ditingkatkan.

Laporan SUSBA menunjukkan hanya empat bank yaitu BRI dan BTPN pada tahun 2050 serta BCA dan BNI pada tahun 2060 yang memiliki target net zero. Dua bank (BCA dan BRI) telah menghitung emisi gas rumah kaca (GRK), namun hanya satu bank (BRI) yang menerapkan Science-Based Targeting Initiative (SBTi).

Perlu perhatian ekstra

Sustainable Finance Lead, WWF-Indonesia Rizkia Sari Yudawinata menambahkan, perbankan Indonesia harus meningkatkan upaya kebijakan dan prosedur agar nasabahnya memiliki rencana mitigasi/action plan untuk mencapai tujuan Perjanjian Paris.

“Usaha kecil dan menengah yang terlibat dalam rantai pasok patut mendapat perhatian ekstra, karena umumnya padat karya dan merupakan kelompok rentan terhadap risiko perubahan iklim,” ujarnya.

Data OJK dan BPS menunjukkan rasio kredit kelompok UMKM akan mencapai 12,38% dari total aset bank pada tahun 2023. Berdasarkan SUSBA 2023, dukungan khusus disalurkan kepada usaha kecil dan menengah (UKM) dalam menerapkan praktik berkelanjutan. terbatas (27%).

Tanpa dukungan yang kuat, industri padat karya berisiko terisolasi. Perbankan harus mengembangkan produk yang memberikan solusi sekaligus menyederhanakan langkahnya dalam menerapkan praktik berkelanjutan. (atn)

Ikuti kami berita Google Dan saluran WA