Maret 2, 2024

Bejagadget

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta Beja Gadget, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta yang diperbarui.

Masyarakat Indonesia tidak senang dengan nyamuk-nyamuk baru yang membunuh nyamuk-nyamuk lama

Masyarakat Indonesia tidak senang dengan nyamuk-nyamuk baru yang membunuh nyamuk-nyamuk lama

Rencana pelepasan 200 juta nyamuk hasil rekayasa genetika di Indonesia sebagai strategi memerangi demam berdarah mendapat tentangan dari penduduk setempat dan para ahli di Bali.

Kritikus berpendapat bahwa studi percontohan yang dilakukan di Yogyakarta, yang menjadi dasar program ini, kurang kuat untuk membenarkan masuknya spesies nyamuk baru ini.

Inisiatif yang melibatkan nyamuk Aedes aegypti yang membawa bakteri Wolbachia ini dimulai pada pertengahan November di Bali. Namun, Kementerian Kesehatan Indonesia telah memutuskan untuk menunda proyek tersebut tanpa batas waktu, dengan mengatakan, “Kami sedang berdiskusi dengan Pemerintah Provinsi Bali untuk menunda sementara peluncurannya. [Wolbachia-carrying mosquitoes] Dan lakukan lebih banyak sosialisasi hingga masyarakat siap,” kata juru bicara kementerian Citi Nadia Darmisi.

Selain Bali, proyek tersebut rencananya akan mencakup Semarang, Bandung, Jakarta di Jawa, dan Kubang di Nusa Tenggara Timur. Nyamuk harus diinokulasi dengan bakteri Wolbachia yang diketahui dapat menghambat pertumbuhan virus seperti demam berdarah, Zika, dan demam kuning, sehingga pada akhirnya mengurangi penularannya ke manusia.

Meskipun penelitian yang dilakukan oleh Pusat Pengobatan Tropis di Universitas Kajah Mada menemukan penurunan kasus demam berdarah sebesar 77,1% di komunitas yang terkena Wolbachia, para kritikus di Indonesia berpendapat bahwa penelitian di Yogyakarta, yang menggunakan sampel 4.500 orang, tidak memadai.

Michael Northcott, seorang profesor etika, menyatakan keprihatinannya mengenai terbatasnya ruang lingkup penelitian ini dan menyerukan replikasi dalam skala yang lebih besar sebelum melanjutkannya di Bali.

Ilmuwan Indonesia Richard Claproth menekankan perlunya penilaian risiko nasional untuk mencegah kemungkinan efek samping, dan memperingatkan bahwa konsekuensi yang tidak diinginkan dapat menyebabkan kerusuhan sosial dan tindakan hukum.

Bandu Riono, ahli epidemiologi di Universitas Indonesia, berpendapat bahwa sebagian dari resistensi tersebut berasal dari kurangnya komunikasi publik dan keterlibatan masyarakat. Meskipun terdapat permasalahan etika, kesehatan dan hukum, proyek ini masih memiliki kesadaran yang terbatas di kalangan penduduk setempat di Bali.

READ  Indonesia: Kendali baru Kementerian ESDM atas atap surya - Atap Indonesia membangkitkan minat terhadap matahari

Pengacara yang berbasis di Bali Julius Benjamin Seran mendesak pemerintah melakukan uji laboratorium ekstensif yang melibatkan para ahli untuk memastikan keamanan nyamuk. Menurut dia, perlu kajian menyeluruh untuk mencegah kemungkinan ancaman baru.

Kontroversi ini menyoroti titik temu yang kompleks antara temuan ilmiah, opini publik, dan pengawasan peraturan dalam mengatasi tantangan kesehatan.

Diterbitkan pada: 06 Desember 2023 14:00:06 IST